#DukungBersama #AsianGames2018: Kisah Mak Tajir, Dagangkan Rujak Di Atas Selat Sunda

#DukungBersama #AsianGames2018

Jam menunjukan angka 12 siang waktu Indonesia bagian barat, saya sampai di pelabuhan Bakauheni, Lampung. Baliho besar terpampang di teras pelabuhan bertuliskan “Sukseskan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang” menyambut saya, tanda bahwa pintu pulau Sumatera siap mendukung dan menerima tamu dari negeri manapun. Menjelang even olahraga terakbar se-Asia tersebut pemerintah terus berbenah, tak lupa pelabuhan Bakauheni yang menjadi pintu utama masuk Sumatera. Bukan tanpa alasan, karena Asian Games 2018 juga akan dilaksanakan di salah satu kota di pulau tersebut, Kota Palembang.

WhatsApp Image 2018-07-17 at 14.24.55
Baliho besar, Asian Games menyambut saya di Pelabuhan Bakauheni

 

Kapal feri tujuan pelabuhan merak menjadi pilihan saya untuk membelah Selat Sunda, kembali ke Jakarta. Pelabuhan yang sudah beroperasi dari tahun 1980 ini memang menyajikan banyak cerita. Jutaan masyarakat menyeberangi Selat Sunda dengan kapal feri, dari pelabuhan Merak-Bakauheni ataupun sebaliknya setiap tahunnya. Hal tersebut menjadikan Selat Sunda menjadi perairan tersibuk di Indonesia yang menghubungkan Jawa dengan Sumatera dan sebaliknya.

 

IMG_6781
Geladak Kapal menjadi spot Favorit saya

Geladak kapal selalu menjadi spot favorit saya, penampakan indah Selat Sunda selalu bisa memanjakan mata siapapun yang melihatnya. Laut Jawa di utara dan Samudra Hindia membentang gagah di selatan, dan saya duduk menikmati kopi diatasnya.

Banyak yang menggantungkan hidupnya di rute selat sunda ini. Mulai dari biduan dangdut diatas kapal yang siap menghibur para penumpang, petugas pelabuhan, sampai penjual asongan yang selalu wara-wiri Jawa-Sumatera belasan kali dalam sehari. Sriyanti Tajir salah satunya, perempuan paruh baya kelahiran Magelang 62 tahun silam. Baginya, Selat Sunda sudah menjadi ladang penghasilanya, seperti halnya sawah bagi petani. Dia bukan nelayan juga bukan petugas pelabuhan, melainkan penjual asongan, lebih tepatnya penjual rujak diatas kapal.

IMG_7684

Mak Tajir begitu ia sering disapa, merupakan ibu dari 6 anak. Ditinggal suami pada 1990 membuatnya harus berkelanan sampai kota Semarang untuk mencari kerja.

“Saya dek sudah kerja dari 1990, di Semarang. Ditinggal suami jadi harus kerja sendiri,” cerita Mak Tajir sambil meracik rujak pesanan saya.

Tahun 2001 menjadi tahun yang berat baginya, Mak Tajir dan keenam anaknya harus menyeberang jauh ke Sumatera. Pekerjaan sebagai penjual asongan adalah ujung tombak kehidupan keluarga Mak Tajir. Setiap harinya, dia bisa belasan kali pulang pergi Merak-Bakauheni untuk menjual rujaknya.

“Bisa belasan kali dek, tergantung sampai jualanya habis saja, baru pulang,” terang perempuan yang sekarang bermukim di sekitaran pelabuhan Bakauheni tersebut.

Sriyanti Tajir adalah nama pemberian orang tuanya, kata ‘Tajir’ di belakang melambangkan doa orang tuanya agar anaknya bisa menjadi orang kaya suatu saat nanti. Bagai patah kemudi dengan embamnya, doa orang tua Mak Tajir tinggal sekedar harapan belaka. Kini Mak tajir hanyalah seorang penjual rujak diatas kapal feri.

Kapal mulai memperlambat lajunya tanda dermaga sudah dekat. Tak ada lagi pulau Sumatera, sekarang Jawa menanti kehadiran saya. Diatas kapal, Mak Tajir dan saya masih asyik bercerita.

“Kadang ramai.tapi juga sering sepi dek, dagangan saya juga tak laku kadang-kadang,” tambah Mak Tajir.

Setelah selesai berjualan, Mak Tajir masih memilki tugas, yaitu bersih-bersih. Geladak kapal yang cukup luas tersebut selalu saja kotor dengan sampah yang dibuang sembarangan oleh para penumpang. Membersihkan sampah di kapal seakan sudah menjadi kewajiban Mak Tajir, itu adalah timbal baliknya karena sudah diizinkan berjualan di kapal.

IMG_7696
Nyempatkan diri foto dengan Mak Tajir

Baginya, berlaku jujur dan pantang menyerah adalah kunci kehidupan. Berkaca pada masa lalunya, ketidakjujuran suami menjadikanya harus berjuang sendirian menghidupi keluarga.

“Siapa yang mau susah dek, tidak ada. Tapi yang penting itu jujur dan pantang menyerah, inshaalah duit berapa saja jadi berkah,” terang Mak Tajir dengan nada lugu.

Ketika ditanya mengenai even Asian Games 2018, Mak Tajir mengaku tidak tahu. Dia beranggapan bahwa kalau semisal bakal banyak orang yang akan menyeberang Jawa-Sumatera dengan kapal feri tentu sangat senang. Rujak yang ia jual tentu akan lebih laris lagi dengan adanya turis yang menyeberang.

“Tidak tahu saya dek, tapi kalau semisal banyak bule yang nyeberang kesini, saya senang sekali. Semoga saja rujak saya tambah laku hehe,” celetuk Mak Tajir menambah cair suasana.

Jarak Jakarta dan Palembang sekitar 600 km yang bisa ditembuh dengan jalur darat selama 14 jam. Apabila dengan jalur udara, waktu akan lebih cepat dengan hanya membutuhkan kurang dari 1,5 jam perjalanan. Namun tidak memungkiri bahwa akan banyak juga wisatawan baik asing amupun lokal yang akan datang ke Palembang melalui jalur darat.

IMG_6804
Keramaian Selat Sunda, sibuk namun tetap indah

Data Indonesian Asian Games Organizing Committee (INASGOC) Department Ticketing menunjukkan, Asian Games 2018 akan diikuti 45 negara dengan jumlah atlet dan official mencapai 15.000, media 5.000, dan melibatkan 30.000 volenteers dan workforce, serta ditonton lebih dari 5 miliar orang di seluruh penjuru dunia.

Dengan data tersebut, Kementerian Pariwisata menargetkan akan ada 170 ribu wisatawan asing yang akan datang ke Indonesia. Selain menonton gelaran pentas olahraga, mereka juga tentu ingin menikmati alam Indonesia yang sudah terkenal indah. Salah satunya adalah Selat Sunda yang bisa dinikmati melalui kapal feri, sepertihalnya saya dan Mak Tajir.

IMG_6757
Banyak masyrakat yang lebih memilih menggunakan jalur kapal karena pemandanganya

Peningkatan penyeberangan Merak-Bakauheni dikarenakan adanya turis baik lokal maupun mancanegara tentu menjadi asa baru bagi banyak orang seperti Mak Tajir. Ajang Asian Games yang hanya menunggu hari menjadi harapan bersama masyarakat Indonesia. Peningkatan fasilitas insfrastruktur olahraga diharapkan bisa ‘nyiprat’ kepada masyarakat menengah kebawah sepertihalnya Mak Tajir yang bisa mendapat peningkatan taraf ekonomi.

“Semoga lancar ya dek sampai tujuan, terimakasih sudah dibeli rujak saya,” tutup Mak Tajir. Satu paket rujak pesanan sudah tersaji di hadapan saya. Mahar Rp.10 ribu rupiah menjadi gantinya.

Sekilas kemudian Mak Tajir kembali menjajakan Rujaknya kepada penumpang lain. Senyum ramahnya dibagikan kepada siapapu yang ada disana. Begitupun dengan saya yang tidak hentinya tesenyum memandang indah Selat Sunda sembari mengunyah rujak segar.

#DukungBersama #AsianGames2018 #Indonesia

 

Iklan

“Sajak DOA INSOMNIA” (Coretan Sahabat)

Aku terlanjur biadab

Mataku melawan arus yang entah mana tepi sampai

Pada jam yang menyapa

Tangis mataku hanya bisa bilang: dada!

Merah urat mataku delima

Tercelup jantung penglihatanku

Diluar normal, dibuang lelah

.

Mataku terlanjur dikemudi busuk

Dipaksa-paksa kerja rodi pada rel: tak pernah suntuk.

Aku tak tahu mana kompas tunjuk rumah batas normal

.

Aku inginnya hanya ronta dalam rimba gulita

Namun pendengaran hanyalah bulan, bintang, dan langit malam tuli

Tak ada

Tak ada aku diajar seisi guru alam

Insomnia telah usang mengubur murid tubuhku dengan sejejal waktu

.

Tuhan ajari aku sebutir lelah

Ya Allah ajari hamba untuk sekejap kantuk

Tanam obat tidur pada jiwa tak tenangnya seorang kelelawar ini

Kelelawar pencari mangsa: waktu tak kenal nestapa.

.

*Arsyad Ibad

Littly, Ubah Koin Jadi Saldo, Solusi Sederhana Untuk Atasi Masalah Bersama

 

IMG_20171229_113303
Pertemuan saya dengan CEO alias Founder dari Lttly, Kak Ahmad Suaidi a.k.a Azka. foto: pribadi

Suatu ketika ada cerita mengenai Budi, yang punya hobi ngoleksi koin kembalian jajan di minimarket? Atau sekedar kembalian jajan es di pinggir jalan? Koleksi koin itu bisa numpuk berbotol-botol? Tiba-tiba sudah di akhir bulan, duit mepet, Alhamdulillah ada koleksi koin kembalian! Tapi malu mau jajan pakai receh. Takut diketawain sama mbak-mbak minimarket.

Ada juga Joko, mahasiswa tingkat akhir, yang sudah kehabisan duit di akhir bulan. Dia berburu receh di banyak baju dan celana yang pernah dia pakai, tidak disangka bisa terkumpul puluhan ribu rupiah dari recehan itu. Tapi, sama dengan Budi, Joko juga malu-malu untuk beli mie instan ke minimarket dengan recehan.

Banyak mungkin diantara dari kamu yang bernasib sama seperti Budi atau Joko. Punya koin receh,banyak tapi malu pengen transaksi. Sekarang kamu bisa ucapkan selamat tinggal dengan hal tersebut, sudah nggak jaman gengs. Kini, sudah hadir yang namanya Littly, aplikasi cerdas yang bisa mengubah recehan menjadi saldo di smartphone kamu.

Lalu bagaimana bisa receh berubah menjadi saldo? Pasti ribet nih, minta ijin bank dll. Nggak kok, mudah sekali. Cukup dengan menukarkan koin receh yang sudah sering kamu kumpulkan ke agen atau robot koin terdekat di sekitar kamu. Nantinya koin receh kamu akan dikonversi menjadi bentuk saldo di e-money kamu, seperti Flazz, Brizzi dll. Dan setelah itu kamu bisa transaksi dengan pede ke minimarket manapun dengan ­e-money kamu yang sudah terisi saldo.

Ide brilian ini lahir dari seorang pemuda kelahiran Bontang, Ahmad Suaidi, 23 tahun. Ceritanya kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk bisa wawancara langsung ke kediaaman Kak Ahmad Suaidi,  di daerah Setia Budi, Jakarta. Kak Azka, begitu ia sering dipanggil, menceritakan bahwa ide ini muncul dari pengalaman pribadi ketika dirinya malu untuk berbelanja menggunakan koleksi recehan miliknya, persis seperti cerita Joko diatas.

“Jadi memang karena aku dulu juga anak kos, jadi memiliki pengalaman yang sama mengenai recehan ini, haha.” begitu Azka menjelaskan dengan  cair.

“Uang receh itu sangat berharga lho untuk anak rantau, tapi agak malu untuk melakukan transaksi dengan uang koin kan?” cerita Azka ketika awal mendapat ide mendirikan aplikasi Littly.

Pada tahun 2016 dia merintis aplikasi ini bersama dengan beberapa temanya. Awalnya, aplikasi ini bernama MyVest, singkatan dari My Investation. Karena ide awalnya adalah mengubah receh kembalian berbelanja menjadi dana saham kecil di tempat dia bertransaksi. Baru pada bulan Mei 2017, MyVest berubah menjadi Littly dan diperbaharui seperti versi yang sekarang.

Littly sendiri diambil dari Bahasa inggris yang berarti hal-hal yang kecil. Karena memang uang receh ini adalah hal yang kecil. Namun dari hal yang kecil lah suatu yang besar bisa terjadi.

“Uang koin itu memang hal yang receh banget, orang sering melupakan uang Rp. 200 perak, Rp. 500,- perak. Tapi kalau dikali oorang Indonesia yang jumlahnya jutaan? Bisa sangat impact kan?” jelas Azka.

Ide dari Azka ini mendapat respon yang bagus dari beberapa pihak. Salah satunya adalah Bank Indonesia. Bukan tanpa alasan, karena BI sendiri memiliki permasalahn yang sama mengenai uang koin ini.

“Masalah koin ini menjadi masalah yang serius di Indonesia. Dalam setahun BI mencetak uang koin sekitar Rp. 6 triliun, dan hanya kembali sekitar 15% saja” jelas Aska.

Jadi buat teman-teman yang sering punya uang koin receh, jangan dibiarkan ya, lebih bagus disimpan pada wadah tertentu atau bisa dikonversi menjadi saldo di aplikasi seperti Littly ini. Karena kalau kamu acuh dengan receh, bisa memberi kerugian ke negara dengan jumlah triliunan rupiah lho. Coba, uang trliunan itu kalau bisa balik lagi ke pemerintah bisa buat apa saja? Bisa buat memeperbaiki sekolah rusak, bikin jalan tambah mulus, bisa bikin sekolah baru juga di pedalaman sana, bisa bikin penerangan di daerah yang belum terkena  listrik, dan masih banyak lagi. Jadi mulai sekarang jangan acuh terhadap koin ya gengs.

Hal tersebutlah yang juga melatarbelakangi dari berdirinya Littly ini. Azka yang memiliki masalah yang sama mengenai keberadaan koin, dan juga banyak masayarakat lain yang mengalami masalah yang sama. Littly hadir untuk memberikan kemudahan dan sekaligus gerakan untuk memanfaatkan koin dengan lebih bijak lagi. Kebermanfaatanya bukan hanya untuk kita lho, tapi juga berdampak baik kepada negara dan masyarakat umum.

Balik lagi ke Littly, jadi memang aolikasi satu ini unik banget, nggak kebayang kan kalian kok bisa ada aplikasi yang bisa ngubah receh jadi saldo, kan gue banget gitu. Ini akan jadi solusi banget untuk kalian yang suka nyimpen uang receh atau suka berburu koin di pakaian kotor kalian saat akhir bulan (serasa ngomongin diri sendiri ya, hehe).

Nggak usah banyak khotbah, dari beberapa kali pengamatanku danlangsung dijelaskan oleh empunya aplikasi, Kak Azka, Littly ini punya banyak banget kelebihan, apa saja? simak berikut ini.

Apa saja sih yang ada di Littly?

Buanyak banget, selain mengkonversi koin receh menjadi saldo, kamu juga bisa mendapat kemudahan lain di aplikasi ini.

  1. Ubah koin jadi saldo
Screenshot_2017-12-31-22-53-03-103_litt.ly
Tampilan aplikasi Littly. punya saya masih kosong wkwk. belum sempat praktek. gambar: pribadi

Ini menjadi fungsi utama yang ditawarkan oleh Littly. Bagi kamu yang menyimpan koin recehnya hingga terkumpul berbotol-botol, tapi malu untuk transaksi, Littly bisa membuat transaksi kamu lebih ketje. Bagi kalian yang memiliki kartu e-money seperti Brizzi, atau Flazz dll, Littly bisa langsung terintegrasi ke e-money kamu berupa saldo.

Nggak usah khawatir dimana teman-teman menukarkan koin ini, karena Littly sudah bekerja sama dengan ratusan retail yang ada di wilayah Jabodetabek. Dan juga teman-teman bisa membelanjakanya di ratusan retail-retail tersebut.

Dengan hal tersebut bisa kamu gunakan di berbagai transaksi mulai jajan di minimarket, bayar parkir, atau bepergian dengan Busway dan Kereta Commuter Line, ketje abis kan?

Jadi sekarang jangan khawatir dengan uang receh yang teman-teman simpan selama ini. Malu untuk transaksi, tinggal download aplikasi Littly di HP kamu dan kamu bisa membelanjakan uang koin kamu dengan gaya yang berbeda dari yang lain, hehe.

  1. Robot koin

Mungkin muncul pertanyaan di kepala teman-teman mengenai bagaimana kita menyerahkan koin-koin ini untuk selanjutnya dikonversi ke bentuk saldo. Kalau menggunakan cara standar, teman-teman bisa menghubungi “pahlawan koin” yang bisa teman-teman temui di berbagai ritail-ritail yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Namun kalau teman-teman merasa keberatan untuk datang ke raetail-retail yang ada, kalian juga bisa langsung mengkonversikanya ke alat yang disebut dengan “robot koin”. Robot koin adalah suatu mesin pengkonversi koin ke bentuk saldo dengan mandiri. Prinsip kerjanya mirip dengan ATM setor tunai, yaitu dengan memasukan koin ke alat tersebut dan langsung masuk ke saldo di aplikasi Littly kamu.

Robot koin ini sudah tersedia di berbagai tempat di wilayah Jabodetabek, dan siap untuk mempermudah transaksi teman-teman. Gimana canggih kan? Jangan dikira hanya Jepang saja yang punya robot, karena putra bangsa juga bisa bikin robot, karena memang robot koin ini diciptakan oleh Littly sendiri.

 

  1. Donasi
Screenshot_2017-12-31-22-53-15-224_litt.ly
Kamu bisa donasikan saldo kamu lewat Littly. gambar: pribadi

Yang unik lagi adalah menu donasi. Kamu yang ingin menyalurkan bantuan, tidak harus jauh-jauh cari kotak amal di masjid-masjid, atau harus ke lembaga amal. Karena dengan aplikasi ini kamu bisa menyalurkan donasi kamu dengan hanya sentuhan jempol. Karena aplikasi Littly sendiri sudah bekerja sama dnegan banyak lembaga filantorpis yang ada di Indoensia. Jadi jangan khawatir dengan uang donasi kamu, karena bakal disalurkan oleh lembaga resmi dan bertanggung jawab pastinya.

Bahkan dari sekian banyak aliran transaksi yang masuk di Littly, Aska mengaku bahwa menu donasi menjadi ikon di aplikasinya tersebut.

“Aku kaget karena malah aliran transaksi yang masuk di Littly lebih banyak di menu donasi, mungkin karena orang Indonesia suka sedekah mungkin ya, hehe.” canda Aska dengan santainya.

Dia juga bercerita bahwa banyaknya donasi yang masuk malah membuat apliaksi miliknya jadi lebih mirip aplikasi crowdfunding.

“Jadi lebih mirip crowdfunding aplikasi Littly itu.” Tambah Aska.

Jadi untuk kalian yang ingin mendapat sensasi lain dalam berbuat kebaikan. Littly bisa menjadi alternative untuk kalian. Cukup sentuh di layar smartphone kalian dan kalian bisa berbuat kebaikan dengan gaya baru.

  1. Pulsa
Screenshot_2017-12-31-22-53-57-302_litt.ly
Ratusan retail yang sudah bergabung dengan Littly. gambar: pribadi

Kamu pernah memiliki pengalaman kehabisan kuota, atau pulsa di tengah malam, atau di saat lagi genting banget mau telpon klien tiba-tiba pulsa habis? Dengan Littly di HP kamu, permasalahan itu bisa teratasi dengan mudah. Dengan saldo yang ada di di akun kamu, bisa lho dikonversi juga menjadi pulsa elektronik. Bahkan harga yang ditawarkan Littly terkenal murah bingittss.

“Kita malah dapat banyak pemasukan itu dari pulsa, karena memang kita terkenal murah banget kalau dibanding yang diluar-luar.” jelas pemuda 23 tahun ini.

Karena saking murahnya, customer Littly kebanyakan berasal dari para penjual pulsa untuk dijual kembali.

“Kebanyak yang menggunakan apliaksi kita adalah para penjual pulsa, karena memang harga yang kita tawarkan murah banget” tambah Aska.

 

  1. Nggak perlu ngantri kalau jajan di minimarket dengan Payment by QR Code.
Screenshot_2017-12-31-22-53-21-466_litt.ly
Beberapa menu keren yang ada di aplikasi Littly. gambar: pribadi

Pernah ngalamin ngantri hanya untuk beli air mineral di minimarket? Atau hanya beli mie instan? ­bete banget kan? Sekarang hal terseut sudah bisa diatasi semudah ngupil, hehe.

Kenapa kok bisa semudah ngupil? Yaps, karena hanya dengan membuka aplikasi ini, dan kamu scan barcode  dengan Payment By QR Code di barang yang kamu beli dengan mandiri kamu bisa bebas ngantri. Karena fungsi aplikasi ini juga bisa langsung dipakai transaksi tanpa harus menggunakan sarana lain seperti e-money card. Itu artinya, kamu tidak perlu antri ke kasir, dan hanya menunjukan bukti transaksi di HP kamu ke kasir, dan kamu bisa keluar minimarket sambil senyum bahagia meninggalkan antrian yang lagi bengong lihatin kamu, hehe. Canggih nggak? Makanya cepet install di Playstore atau AppStore, trus mejeng deh ke minimarket terdekat, haha.

 

Dan itu tadi banyak manfaat yang bisa kamu dapatkan dari aplikasi cerdas satu ini. Kembali ke perbincangan kita dengan empunya aplikasi alias founder alias CEO nya Littly ini. Perlu teman-teman ketahui bahwa Kak Azka ini baru berumur 23 tahun pas aku wawancara kemarin, itu artinya beliau mulai merintis aplikasi Littly ini pada umur 21 tahun pada 2016. Tepat seperti umurku pas wawancara dia. Masih muda banget ya berarti? Memang sih banyak startup yang banyak diinisiasi oleh para kaum muda. Kitabisa.com salah satu situs crowdfunding terbesar di Indoensia juga didirikan oleh anak muda. Muhammad Alfatih Timur mendirikanya pada usia ke-19.

Jadi kayanya mudah ya bikin startup itu? Umur muda saja sudah bisa bikin startup gede. Bener banget,  bagi teman-teman yang berfikir seperti itu. Banyak mungkin dari kamu yang punya ide brilian untuk membuat suatu startup, tapi ujung-ujungnya malah kendor dan nggak jadi terealisasi.

Hasil obrolan saya dengan empunya Littly, Kak Azka kemarin itu memeberikan  banyak banget inspirasi, salah satunya untuk membuat suatu startup suatu hari nanti. Karena untuk membuat suatu startup saja itu bukan hanya butuh ide. Hal terpenting adalah aksi untuk segera merealisasikan ide.

“Karena yang mahal di startup itu bukan idenya tapi aksinya”, terang Azka ketika ditanya mengenai tips untuk membuat startup bagi pemula.

“Sering kita punya ide yang brilian tapi kita malah nggak punya aksi untuk merealisasikanya, jadilah ide itu hanya sebatas ide. Beda kalau ide itu sudah mulai dicoba untuk direalisasikan, tentu akan beda nilainya”, lanjut Azka.

Habis dipikir-pikir iya juga ya. Saya sendiri nyaris setiap hari melahirkan banyak ide yang tiba-tiba saja hadir. Entah pas lagi asik makan, tiba-tiba muncul ide. Pas lagi ngopi pagi-pagi keluar ide. Pas lagi jogging sore-sore keluar ide. Pas lagi asik poop di toilet keluar ide (yang terakhir paling sering).

Tapi nyaris tidak ada yang terealisasi, nyaris semuanya mentok di ide. Bener banget ya apa yang disampaikan Kak Azka tadi. Ide murah, aksinya yang mahal. Mungkin dari teman-teman banyak juga yang memiliki keluhan yang sama mengenai masalah ide ini? Yang ngerasa sebagai idea maker, bisa komen dikolom komen ya.

Karena sudah terlanjur tertarik dengan bahasan  memulai startup, jadilah obrolan Littly ini beralih ke bagaimana mendirikan startup bagi pemula. Berikut beberapa tips yang keluar dari si empunya alikasi Littly, Kak Ahmad Suaidi a.k.a Azka:

  1. PeDe dengan ide kalian

Hal pertama yang harus kamu pegang dalam mendirikan suatu startup adalah percaya diri alias PeDe dengan ide yang teman-teman garap. Mudah saja sih, kalau teman-teman tidak PeDe dengan ide teman-teman sendiri, bagaimana dengan para investor? Atau teman-teman yang kamu ajak untuk bergabung dalam ide ini? Boro-boro laku di pasaran dan dipercaya oleh masyarakat dan penguna gadget, dipercaya oleh diri teman-teman saja tidak.

“Yang pertama harus PeDe dengan ide yang kamu garap. Ini penting banget, Karena kalau hanya setengah-setengah mending jangan sekalian mendirikan startup” saran Azka.

Azka juga menjelaskan bahwa PeDe ini menjadi modal utama untuk menjaring para kolega dan investor yang nantinya bergabung dalam perkembangan startup.

“Penting banget, karena investor nggak mungkin bisa percaya memberikan dananya ke kita kalau kita sendiri tidak percaya dengan produk kita” jelas Azka lebih lanjut.

Tuh, jadi, rasa percaya diri kita jadi kunci banget dalam bisnis startup itu. Karena nantinya kita harus meyakinkan banyak orang untuk percaya ke aplikasi yang kita buat. Tidak ada pilihan lain selain menjadi yang pertama percaya pada aplikasi kita buat.

  1. Lakukan yang kamu bisa

Dari kamu pasti berfikir kalau untuk bisa mendirikan startup harus punya kemampuan IT diatas rata-rata. Aku kan nggak bisa komputer, tapi pengen bikin startup. Aku bisa main komputer, tapi Cuma standar aja, bisa nggak ya bikin startup? aku ahli di bidang komputer, tapi nggak punya ide, gimana ya? aku pinter marketing doang, tapi pengen punya startup, caranya gimana? Peryataan-pernyataan semacam itulah yang sering muncul pada seorang yang ingin mendirikan startup.

 Tidak memiliki kemampuan mengoperaikan komputer belum tentu menjadi penghalang bagi ide brilian teman-teman. Mencari kolega yang bisa menutupi kelemahan teman-teman adalah hal yang bisa kamu coba. Cukup lakukan kemampuan yang teman-teman bisa, tidak perlu harus memiliki semua kemampuan untuk mendirikan startup.

“Cukup lakukan yang kamu bisa. Selebihnya cari orang untuk melakukanya” terang Azka yang memulai startup nya bersama dengan dua kolega nya.

“Aku sendiri tidak paham mengenai komputer, aku adalah orang yang paham perihal akuntan, bisnis, dan ekonomi saja” jelas Azka lebih lanjut.

Dengan kelemahan Azka yang hanya memiliki ide mengenai banyaknya koin yang tercecer padahal banyak manfaatnya, dia pun mengajak koleganya yang bisa menutup kekurangan dalam membentuk startup ini.

“Aku tidak bisa komputer, aku ajak temanku yang bisa coding dan aku ajak dia membangun Littly. Aku gaji? Tidak, aku kasih dia saham untuk sama-sama membangun startup ini” tegas Azka.

Intinya adalah jangan memaksakan diri untuk bisa mengerjakan semua sendirian. Cari partner yang tepat untuk bisa menjalankan ide kamu bersama-sama. Bangun visi bareng-bareng, dan bisa diajak kerjasama dan jatuh bangun bareng.

  1. Konsisten

Yang ketiga adalah yang paling penting. Karena dalam perjalanya startup tidak hanya mendirikan, namun juga merawat dan menjaga selama mungkin. Sikap konsisten dari kita yang ingin mewujudkan startup impian adalah terus konsisten dengan aplikasi yang kita buat. Terus memperbaharui semangat di tiap harinya agar aplikasi bisa berkembang.

Terkadang aplikasi menjadi tidak tumbuh dan sukses dengan cepat, dan sering kita patah semangat terlalu dini. Hal ini yang harus dilawan, dan terus melakukan inovasi juga mengkoreksi kekurangan dari startup yang kita buat.

“harus konsisten ya, dan jangan mudah patah semangat. Karena memang bisnis startup ini banyak sekali sainganya, nyaris setiap hari ada startup baru” jelas Azka.

Dengan sikap konsisten, kita bisa membuat aplikasi yang kita buat bertahan dari persaingan yang ada.

Di akhir wawancara, saya mendapatkan sedikit wejangan dari kak Azka ini perihal yang poin ketiga ini.

“Dalam kehidupan, kita harus berani dan semangat, baik, dan pekerja keras. Tidak peduli dengan apa yang terjadi diluar sana, kita harus bertahan dan jangan pernah menyerah,” terang Azka.

“sampai kita mendapat jalan terbaik dalam menggapai cita-cita kita” tambahnya.

Agak nggak nyambung sih kalau yang terakhir tapi tetap banyak yang bisa saya ambil pelajaran dari pertemuan saya dengan kak Azka beberapa hari kemarin.

Jadi sekarang untuk kamu yang bercita-cita untuk mendirikan startup sendiri jangan menyerah ya, dan jangan minder dengan kemampuan diri. Cukup untuk temukan ide, dan cari orang dengan visi yang sama dan bisa menutup kekuarangan kamu. Terus konsisten dengan apa yang dijalani, maka statup impian pun akan segara hadir melengkapi hidup teman-teman dan hidup masyarakat banyak.

So, cukup sekian perbincangan kita mengenai Littly dan startup. Semoga bisa menginspirasi teman-teman, dan hidup startup buatan anak bangsa!

 

#StartupLyfe #DWVlogCompetition #MyRepublicIndonesia

Review Film: Chasing Coral, Film Dokumenter taste Drama Korea

Kenapa harus berhenti karena usia, saya akan terus menyelam sampai saya pikun.”–Dr. Charlie Veron

Kali ini aku bakal bahas salah satu film dokumenter yang rilis tahun 2017 ini, tepatnya tanggal 14 Juli lalu, Judulnya Chasing Coral. Jadi ceritanya aku minggu ini ikut sebuah pelatihan blogging yang diadakan salah satu NGO pemerhati perubahan lingkungan, Climate Institute, bekerja sama dengan Fredrich Neumann Stiftung, salah satu NGO Internasional asal Jerman. lha, pas pelatihan tersebut aku dan temen-temen dari seluruh daerah di Indonesia yang jumlahnya ada 30 orang berkesempatan menonton salah satu film bertema lingkungan yang bakal aku review kali ini,yaitu Chasing Coral.
Film berdurasi 93 menit ini berhasil membuat sudut pandanganku mengenai laut, BERUBAH! So, perlu aku jelasin, bahwa sebenarnya aku bukanlah seorang yang suka dengan laut, cenderung takut, tidak bisa berenang. Jadi bisa dibilang wawasanku mengenai laut itu sekita 0,000 sekian persen. Namun setelah nonton film ini, WOW!!! Ternyata gini ya laut itu. Batinku.

images (2)

 

Film dokumenter ini akan membuat siapapun yang menyaksikan menjadi tersadarkan. Pentingnya peran terumbu karang dan bagaimana sistem alam bekerja di bawah laut berhasil disajikan dengan alur yang mudah diterima, bahkan untuk orang awam sekalipun— seperti aku. Jeff Orlowski, sutradara dibalik film ini menyajikan sisi-sisi lain dari kehidupan bawah air yang sama sekali tidak pernah kita duga.

Salah satu yang paling mengejutkan bagi aku adalah fakta bahwa terumbu karang merupakan tumbuhan, sekaligus hewan, bukan sekedar batu dibawah air guys, so ubah mindset kalian. Juga kerusakan terumbu karang di laut ternyata tidak saja disebabkan oleh orang-orang yang terlibat langsung dengan lautan, seperti masyarakat pesisir dan nelayan, namun masayrakat daratan, seperti aku dan kalian guys. Lho kok bisa? Ya bisa lah, asap knalpot, asap pabrik, sampai asap rokok yang kalian sedot tiap hari itu membuat atsmosfer kita ini tambah panas, dan juga berakibat tidak langsung dengan air di lautan. Dan berhubung terumbu karang adalah makhluk yang sensitive, kaya cewek, dia gampang mati dengan kenaikan suhu bumi yang semakin memanas. So, keep your green behavior gengs!!!
Emosi penonton akan diulik sedemikian rupa, seakan film ini adalah sebuah film drama Korea. Dan ketika penonton sadar bahwa ini merupakan realita sebenarnya dari lautan yang kita punya, disitu klimaks disajikan. Semakin menarik ketika usaha kampanye tim film tersebut sangat sulit terealisasi. Kegagalan bertubi datang, dan effort baja yang dipancarkan oleh para aktor dalam upaya penyelamatan terumbu karang menjadi sajian menarik dalam film ini.

Yang paling mengisnpirasi adalah pas adegan salah satu pegiat terumbu karang yang sudah menghabiskan duapertiga hidupnya hanya untuk melestarikan karang, yaitu Dr. Charlie Veron dari Australia. Dia ngomong kalimat sakti seperti yang aku kutip di awal artikel.  Dan ketika Dr.Veron ngomong dengan begitu semangatnya, ada manusia lain di sisi Bumi entah dimana sedang buang sampah sembarangan, atau sedang update status Instagram di pinggir pantai nulis gambar “Budi LOVE Siti” tanpa sadar bahwa lautnya sedang dalam keadaan sekarat. Hadehhhh……

images (1)_1511615262419
Salah satu gambar dari film Chasing Corak, menggambarkan perubahan yang terjadi pada terumbu karang hanya kurang dari dua bulan.

So, kalian semua guys, baik yang di darat maupun di laut, yang di gunung maupun di lembah, anak jaman dulu maupun jaman now, aku saranin untuk nonton film Chasing Coral ini. Nggak mungkin nyesel, daripada nonton sinetron balapan nggak jelas. Di IMDb film ini mendapat nilai 8.2, lebih bagus nilainya dari film film Justice League keluaran DC baru-baru ini. Bahkan saking bagusnya Chasing Coral ini, sampai diganjar 13 nominasi film internasional, 4 diantaranya menang. Happy Cinema!

Lebih dengan dengan Christyan A.S.

Sudah sekian lama akhirnya bisa ngepost lagi nih. Sudah vakum berapa bulan, sori kalau ada yang nunggu tulisan. tulisan sebenernya ada, numpuk malah sampai bingung mana dulu yang di post. Cuma nggak ada yang dipost, laptop rusak dan tugas KKN di kampus dan banyak lagi mungkinn bisa dijadikan kambing hitam haha. nih untuk postingan pemanasan aku punya profil dari salah satu ilustrator muda asal Malang. Aku ketemu dia pas lagi acara launching buku kumpulan puisinya Noor Massardi nyaris empat bulanan yang lalu. Dia yang bikin ilustrasi puisi-puisinya Noorca. Jadi tertarik sih ngulas profesi ilustrator itu bagaimana hehe, menjanjikan nggak buat jaman now, hehe.

Mungkin dari kalian ada yang pernah dengar nama Christyan A.S.? atau malah gak pernah denger? Aku yakin lebih banyak yang gak familiar dengan nama itu sih. Yap aku juga soalnya hehe.

Ini salah satu karya mas Christyan, agak unik kan?

 

Dia adalah seorang illustrator muda kelahiran Blitar 27 tahun silam. Gambarnya baru saja menghiasi kompilasin puisi milik penulis Nancy Massardi yang baru dirilis tanggal 20 September lalu di Gedung Perpustakaan MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat. Dan kebetulan aku dapt kesempatan langsung untuk sedikit berbincang-bincang dengan mas Christyan ini.

Yaps, buat kalian yang belum tahu, illustrator adalah profesi berupa menggambar ilustrasi dari gagasan ide suatu karya, biasanya sih karya tulis seperti cerpen, puisi, novel dan sebagainya. Mungkin dari kalian yang sering atau doyan baca kumpulan puisi atau cerpen di Kompas pasti ada sedikit gambar yang terselip didalamnya. Yaps itu adalah hasil buah tangan illustrator. Dia mewujudkan ide puisi atau cerpen tersebut menjadi bentuk gambar. Memang bantu banget sih gambar itu, dengan ilustrasi puisi tersebut pembaca bisa lebih memaknai isi puisi. Selain itu juga menambah sensasi pembaca. Atau hanya sekedar penikmat ilustrasi tanpa baca puisinya terlebih dahulu hhh.

Profesi sebagai illustrator ini nggak begitu familiar di Indonesia lho. Nggak semua orang juga bercita-cita sebagai illustrator. Pas kita SD dulu, pas ditanya apa cita-cita kamu, paling jawabnya jadi tentara, dokter, guru, polisi dan sebagainya. Nggak ada gitu yang jawab “aku mau jadi illustrator bu Guru!”. Pasti gurunya langsung geleng-geleng kan. Apa itu illustrator? Siapa yang ngajarin ni bocah kata illustrator? Siapa sih orang tuanya? Ini murid siapa sih? Saya guru kelas ini bukan? Kenapa saya jadi guru? Bla..bla..bla..

Karena itu aku yang kebetulan bisa nanya-nanya nih ke mas Christyan nya langsung jadi pengen tahu seluk beluk jadi illustrator ini apa sih, tantangan nya dan proses kesitu bagaimana. Biar nanti setidaknya ada variasi cita-cita buat anak-anak SD di Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan apa aja dan jawaban seperti apa yang bakal mas Christyan A.S ini berikan? Lanjut baca di ulasanku berikutnya ya..

see you later guys…\

Dialog Malam

Dialog malam

A: Sedalam itukah perasaannya ? Hingga sejauh itu pesan rindunya sampai padamu ?

B: Bukan hanya sampai padaku, bukan hanya sampai pada relung hatiku, tapi sampai nadi imanku

A: Adakah yg sedalam itu tersimpan selain yabg telah kusimpan ?
adakah rasa sesejati itu selain yg aku miliki ?

B: Ada, dan itu disana entah dimana dan siapa

A: Tidakkah kau ingin mencari ?

B: Bukan aku yang mencari bukan juga dia, karena itu tak mungkin ditemukan.
Siapa yang kuasa mengungkap rahasia Tuhannya??

Kisah Joko Wekwek dan Sang Majikan

Oleh: Zul Rijal

Lehernya menggeleng-geleng, maju mundur seakan ingin menonjolkan ketampananya. Pinggulnya meliuk seakan tidak tahan menahan berat badanya. Bulu-bulunya sewaktu waktu menegang seakan ingin semua orang melihatnya. Yang paling lucu adalah ketika dia mengngibas—ngibaskan ekor mungilnya, mirip seperti tokoh wayang “Semar” yang sedang goyang ngebor. Sudah dua minggu Joko Wekwek, angsa milik pak Kasbun, Kyai kampung Kramat itu bergaya, berlagak bak Brat Pitt dunia unggas. Kalau dilihat musimnya, memang mungkin bulan ini adalah bulan-bulan bagi para angsa untuk kawin. Namun sayang, usaha Joko Wekwek sepertinya tidak begitu bisa memikat hati betina-betina angsa di Kampung Kramat. Usut punya usut badan Joko Wekwek sudah tak segagah dulu, sudah terliat lesu mirip Mbah Kromo, sesepuh Kampung Kramat yang jalanya harus pakai tongkat. Memang usia Joko Wekwek sudah terbilang uzur untuk ukaran angsa, lagi pula nutrisi yang diterimanya dari pak Kasbun tidak seberapa. Sudah lama pak Kasbun tidak menjalankan bisnisnya di pasar, sehingga hanya bisa memberi pakan Joko Wekwek dari sisa makannya bersama beberapa putrinya.

Bukan hanya sampai disitu kegelisahan dari Joko Wekwek. Dulu, sebenarnya ada dua betina yang dipelihara oleh pak Kasbun berdampingan dengan Joko Wekwek sebagai jantan andalan. Namun kedua betina tersebut telah terhasut, tergoda dengan angsa tetangga yang lebih gagah milik pak RW Kampung Kramat. Lagi pula, pakan yang diberikan oleh pak RW lebih bergizi dari hanya sekedar nasi sisa milik pak kasbun dan beberapa putrinya. Dengar-dengar pula dari gosip di kalangan para unggas, bahwa kedua betina tersebut tidak betah dimadu oleh Joko Wekwek. Lalu apa daya pula Joko Wekwek perbuat, dia sudah berhutang banyak kepada pak Kasbun yang telah merawatnya dari masih bentuk “Telor”. Dia sudah menjalanangsa-galaki bertahun-tahun musim kawin yang indah berkat usaha dari pak Kasbun. Tak ada pilihan bagi Joko Wekwek selain setia bertahan di pangkuan pak Kasbun, walau hanya diberi pakan nasi sisa. Atau walau harus khawatir dengan kondisi rumah pak Kasbun yang sudah reot mengenaskan, hanya menunggu waktu untuk runtuh menimpa badanya. Rumah itu terlihat sangat sekarat, kusen depan sudah patah, hanya serabut kayu yang masih sedikit menyambung nampak terlihat. Mungkin kalau hanya dengan kentut dari Joko Wekwek yang terkenal mnggema seantero kampung Kramat, maka habislah sudah riwayat rumah itu.

Kondisi dari pak Kasbun sendiri juga tak kalah sekarat dibanding angsa kesayanganya. Ditinggal putranya merantau, dan beberapa konflik dengan putri-putrinya menjadikan karisma Kyai miliknya yang dulu pernah mengaung seantero kampung kramat meredup hilang, sirna tinggal memori karatan. Belum lagi dengan Siti dan Sri, kedua angsa betina yang sudah tak betah tinggal bersamanya, karena  kualitas pakan yang tidak lulus uji ISO 6000. Sayang beribu sayang memang, dulu pak Kasbun pernah mendapat banyak julukan dengan segala kelebihanya. “Kyai Kondang”, “Pak Kas Wirausahan Sukses”, “Si Petani Ulung” dan banyak lagi. Namun sudah lama sejak dia memutuskan menjalani “Misi Umat” yang menyibukan menjadikanya hilang dari sejarah peradaban Kampung Kramat.

Tidak ada lagi Kyai Kondang, pak Kasbun sudah jarang mengimami orang-orang di masjid, bahkan dia tidak lagi berjamaah di masjid tersebut, padahal masih ada beberapa tetangga yang rindu Khotbahnya. Pak Kas Wirausahan Sukses? Sudah hilang lama tanpa jejak, uangnya habis diinvestasikan dalam “Misi Umat”, tiket bis antar kota, dan pulsa yang dibelinya tiap hari, habis sudah. Bahkan digunjingkan di pelosok Kampung Kramat bahwa Pak Kasbun “Kyai Kondang” sudah “GILA” hutang jutaan rupiah untuk “Misi Umat”. Sawah? Sudah dijual semenjak Joko Wekwek masih di alam barzah.

Malang memang, baik nasib pak Kasbun dan Joko Wekwek. Pernah berada di masa jaya, sekarang merana kehausan di padang sahara. Joko Wekwek yang sedang membutuhkan belaian betina, malah ditinggal pergi istri yang kepincut angsa tetangga. Sekarang pak Kasbun yang lagi butuh dorongan moral dari keluarga, malah dijauhi tetangga bahkan darah daging yang seumur hidup sudah dijaganya ikut-ikutan lari dan mencaci. Sayang beribu sayang, apa daya dua insan satu nasib ini. Hanya pak Kasbun yang mengerti kesepianya Joko Wekwek. Di lain pihak, seakan enggan menyembelih angsanya walau anaknya minta makan daging, karena hanya Joko Wekwek satu-satunya sahabat saat ini yang mengerti nasibnya. Dua kata yang cocok untuk menggambarkan hikayat hidup meraka, “Dilematis” dan “Ironis”.